Wednesday, 13 January 2016

MEREKA YANG DIANGGAP GILA,,,,

Ini abad ke 6, muhammad saw menyampaikan sesuatu yang tidak bisa di terima oleh umat manusia. betapa tidak beliau membicarakan tentang sesuatu yang sangat besar. membicarakan tentang sesuatu yang di luar jangkauan akal. membicarakan sesuatu yang hanya bisa diterima dan dimengerti oleh mereka yang beriman. Jumlah mereka yang beriman sangat sedikit, sehingga tidak jarang mereka di anggap sebagai orang gila.
Ketika umat Islam mendengar akan di serang oleh tentara kafir Quraisy dari Mekkah, mereka berdiskusi untuk mencari solusi terbaik mempertahankan Madinah. Membuat parit adalah starategi yang mereka pilih. Ide ini disampaikan oleh Salman al-Farisi. Orang arab sebelumnya pernah mengetahui metode ini, sehingga membuat kaget para tentara quraisy ketika melihat parit yang mengelilingi kota Madinah.
Matahari bersinar terik membakar batu dan pasir yang sudah kekeringan,menambah kerontang padang pasir yang menguapkan hawa panas menyengat. Kondisi alam di jazirah arab adalah sebuah tantang tersendiri, khususnya bagi siapa mencoba menggali parit dengan ukuran kilometer yang cukup menenggelamkan kuda hingga tak dapat lagi melompat melewatinya. Begitulah keadaan umat Islam. Selain itu, mereka kekurangan makanan. Konon, dikabarkan satu buah kurma di gunakan untuk konsumsi 10 orang.
Di saat panas matahari itu, di saat para sahabat kelelahan karena teriknya matahari disertai rasa lapar dan haus, salah seorang sahabat bertanya kepada Muhammad SAW. Sebuah pertanyaan yang di anggap tidak masuk akal pada saat itu.
Berkata Abdullah bin Amru bin ash: “Bahwa ketika kami duduk di sekeliling Rasulullah SAW untuk menulis, lalu Rasulullah SAW di tanya tentang kota manakah yang akan di tawan terlebih dahulu, Konstatinopel atau Roma.” ( HR Ahmad )
Ketika pertanyaan tentang kota manakah yang terlebih dahulu akan ditaklukkan, kaum yahudi dan munafik tercengang dan berpikir untuk mencari cara agar mengolok-olok kaum umat Islam. Bagi mereka umat Islam telah kehilangan akal. Pertanyaan mereka sudah menjelaskan semuanya. Bahwa mereka telah gila. Bagaimana mungkin mereka membicarakan tentang Konstatinopel dan Romawi, sedangkan mereka saja belum pernah melihat ke dua kota itu. Bagaimana mungkin mereka membicarakan Konstatinopel dan Romawi, sedangkan esok hari mereka akan di serang kaum kafir Quraisy Mekah, mereka tidak tahu apakah mereka akan hidup atau mati. Panasnya terik matahari dan rasa lapar serta haus telah menghilangkan akal sehat umat Islam, pikir Yahudi.
Yahudi lebih tercengang lagi ketika mendengar Jawaban dari Muhammad SAW. “kotanya Heraklius terlebih dahulu (yakni konstatinopel)” (HR Ahmad). Dari jawaban itulah, Yahudi menyimpulkan pantas saja Umat Islam gila, ternyata pemimpinnya juga gila.

***
Sejarah kemudian mencatat, pada tahun 1453, Konstatinopel benar-benar ditaklukkan oleh umat Islam.di tangan Muhammad Al-Fatih, pertanyaan umat Islam Kepada Muhammad SAW, jawaban Muhammad SAW, yang dulu di anggap gila, yang dulu di olok-olok, menjadi kenyataan. Seandainya kaum yahudi dan munafik yang mengolok-olok umat Islam gila, masih hidup pada tahun 1453, mereka akan lebih tercengang lagi melihat kenyataan. Kenyataan bahwa mereka hanyalah pecundang yang dikalahkan kenyataan. Karena yang mereka anggap gila kini telah menjadi pahlawan.

***
Ini abad 21,, tahun 2015, kondisi dunia dikuasai peradaban demokrasi-kapitalisme, yang diusung negara-negara kafir barat. Umat islam yang dulu kuat,terpecah-pecah dalam nasionalisme kebangsaan. Umat Islam terpecah-pecah menjadi beberapa negara. Umat Islam menjadi negara-negara kecil yang diperebutkan negara-negara kafir barat untuk dieksploitasi. Para pemimpin negara Islam tersebut lebih mendengar suara-suara penguasa negara barat, daripada rakyatnya sendiri. Penderitaan di mana-mana. Muslim di Rohingya di siksa, Muslim di Palestina di jajah, muslim di suriah di kejar-kejar dan di bunuh oleh pemimpin mereka sendiri dengan bantuan negara barat. Tidak ada kesejahteraan buat anak-anak Muslim di sana. Tidak ada senyum bahagia dan dan senyuman polos khas anak-anak di sana, mereka di cekam ketakutan yang luar biasa. Bayangan kematian menghantui mereka setiap saat. Harga nyawa umat Islam begitu murah. Sementara, negara kafir barat, hidup bermewah-mewah atas hasil eksploitasi sumber daya negeri-negeri muslim.
Di tengah kondisi umat Islam seperti, kemudian muncul orang-orang yang memiliki impian besar. Impian yang melampaui kenyataan. Mereka memimpikan bahwa umat Islam yang kini terpecah-pecah menjadi kurang lebih 50 negara, harus bersatu dalam satu negara. Jika persatuan ini dapat di bentuk, maka semua kejahatan demokrasi-kapitalisme di muka bumi akan di lawan, dan digantikan dengan kepemimpinan Islam yang akan membawa rahmat bagi seluruh alam.
Namun, mereka yang bermimpi besar itu, selalu di anggap sebagai kelompok pemimpi. Kelompok yang tidak melihat realita. Bagaimana bisa mempersatukan ke 50 negara dalam satu negara, antara Indonesia dan malaysia saja, ketika permainan sepak bola, selalu terjadi ejek-ejekan antar warga negara. Tentu saja orang Indonesia mendukung negaranya begitu juga dengan Malaysia, yang terkadang berakhir dengan kekerasan.,
Bahkan tidak jarang para penggagas persatuan negara-negara Islam dalam satu negara tersebut, di anggap sebagai orang gila yang dibutakan oleh romantisme sejarah. Karena mereka telah dibutakan oleh sejarah,sehingga tidak lagi berpikir berdasarkan fakta yang ada.

***
Memang, begitulah nasib orang-orang yang memiliki impian besar. Pikiran mereka tidak bisa dipahami dengan mudah oleh sebagian besar orang yang berpikir berdasarkan fakta. Mereka selalu di anggap gila dan pemimpi yang tidak lagi melihat kenyataan. Bahkan terkadang mereka di ejek dan di olok-olok hanya karena mimpi-mimpi mereka. tetapi sejarah telah mencatat, Muhammad SAW yang di anggap gila pada masanya, kemudian menjadi pemenang. Ia mengalahkan mereka yang menghina mimpi-mimpinya. Ia mengalahkan mereka yang pernah menyebutnya gila.
Dan kepada umat Islam hari ini,yang memimpikan kembalinya negara Khilafah untuk mempersatukan seluruh umat islam di sluruh dunia dalam satu negara, saya yakin suatu saat mereka akan memenangkan impiannya. Mereka akan mengalahkan orang-orang yang menghina dan mengolok-olok mereka.
Karena memang, sebuah impian besar,selalu di tolak ketika pertama kali impian itu disampaikan. Namun, sejarah selalu mencatat kemenangan bagi mereka yang berani bermimpi besar.

Setetes Pelajaran Di Akhir Tahun

Setiap pergantian tahun, khsususnya tahun Masehi, selalu dihadapi dengan perayaan,, bahkan di Indonesia, yang mayoritas muslimpun, perayaan tahun baru Masehi lebih besar dibandingkan dengan Hijriyah. Tetapi saya ingin mencoba tahun baru dari sisi yang berbeda. Bukan soal perayaan, tetapi tentang pelajaran dan Inspirasi di penghujung tahun.
***
Tanggal 31 desember, sore hari saya berkunjung ke Lawang Sewu, Semarang. Mungkin karena dalam suasana liburan tahun baru, banyak pengunjung juga di hari itu. Saya sebenarnya penasaran, wisata apa yang ditawarkan Lawang Sewu, bangunan tua peninggalan Belanda itu. Setelah membayar karcis masuk 10 ribu rupiah, saya masuk ke dalam. Ternyata di dalam hanya ruangan kosong yang tidak ada isinya. Memang sebagian ada juga isinya, berupa gambar-gambar tentang perkeretaapian pada zaman hindia Belanda. Ada gambar-gambar tentang terminal kereta api yang pertama di bangun Belanda, di beberapa daerah di pulau Jawa. Juga ada ruangan untuk nonton. Yah, nonton apalagi kalau bukan video dokumentasi sejarah kereta api di Indonesia. Selain itu, ada juga beberapa batu prasasti yang ditandatangani pemerintah belanda pada saat itu, yang berkaitan dengan peresmian terminal kereta api. juga ada foto-foto para gubernur jenderal Belanda yang pernah memerintah Indonesia. Ada beberapa foto, tetapi yang paling saya kenal adalah Van Den Bosch. Dialah gubernur yang membuat kebijakan tanam paksa, untuk membayar hutang-hutang pemerintah hindia belanda.Di ruangan depan gedung, adalah rungan yang menampilkan seragam para pejabat kereta api dari zaman belanda sampai saat ini. keren juga koleksinya. Sampai mereka bisa mengumpulkan semua seragam itu.
***
Bosan di dalam ruangan saya mencoba keluar. Ternyata di luar banyak pengunjung yang sedang asik foto-foto sama keluarga dan juga teman mereka. adalah menarik bagi saya menyaksikan anak-anak kecil berlari ke sana ke mari di halaman gedung peninggalan belanda ini. ada juga beberapa pengunjung dari Korea yang sibuk mengambil gambar. Mungkin beginilah kehidupan di kota besar,kesibukan kerja telah menyita banyak waktu bagi keluarga. Lingkungan yang padat,juga membuat anak-anak tidak bisa leluasa bergerak. Maka, di liburan seperti inilah, mereka yang selama ini sibuk bekerja meluangkan waktu berlibur bersama keluarga, dan memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk bermain di alam terbuka secara bebas.
Tentu saja, hal itu berbeda dengan saya terlahir dari desa. Di desa tidak perlu bayar untuk menikmati keindahan alam di tempat terbuka. Sejak kecil tidak ada ketakutan untuk berlari di alam terbuka secara bebas. Di titik ini, saya bersyukur terlahir di desa yang jauh dari hiruk-pikuk keramaian seperti di kota besar. Di desa kita memiliki kesempatan yang begitu besar untuk menjelajah cakrawala alam yang begitu luas, dan mengambil setetes pelajaran.

Ayah, Sang Inspirator Dalam Diam

Ayah adalah orang yang selalu hadir ketika kita menghadapi masalah. Ayah selalu hadir di kala kita kehilangan semangat dalam mengejar impian. Dan ayah selalu menjadi sosok yang memberi motivasi dan inspirasi di kala semangat itu perlahan-lahan mulai meredup. Ayah selalu hadir untuk menyalakan kembali semangat-semangat itu, memberikan berbagai macam cerita, entah itu dongeng atau pengalamannya, untuk memberikan kita inspirasi dan semangat. Mungkin, ayah akan kelihatan sedikit bicara atau pendiam, tetapi ia selalu ada di saat-saat yang tepat. Memang, ayah tidak terlatih seperti ibu untuk mengekspresikan perasaannya di depan kita, dengan kata-kata lembut dan menyentuh. Tetapi ia lebih banyak bercerita untuk membesarkan hati kita, dan membawa kita dalam keberanian menggapai impian. Ia mengajari kita menghadapi kehidupan, lewat cerita-cerita yang ia sampaikan. Disadari atau tidak,,, kita hari ini, entah seperti apa kita, ada peran ayah di situ, yang membentuk kepribadian kita.
*** 
Laki-laki itu bernama Dam. Ia begitu sedih melihat klub kebanggaannya kalah tipis sama tim lawan dengan skor 3:2. Di tambah lagi, pemain kebanggaannya, yang dijuluki el capitano, harus di tandu keluar lapangan, karena cedera. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Ayahnya ada di sampingnya. Mereka sama-sama menonton pertandingan semifinal yang menegangkan itu.
“Dam, jangan kamu berkecil hati. pertandingan berikutnya, di kandang lawan el capitano akan membalas kekalahan hari ini,” kata ayah Dam.
“Dari mana ayah tahu,” tanya Dam dengan nada kesal.
Ayah kenal betul sama pemain kebanggaanmu itu. Dia adalah pemain yang tidak gampang menyerah. waktu ayah masih belajar S2 di kota pemain kebanggaanmu itu, saat itulah saya mengenalnya. Dia masih kecil. Orang tuanya terhitung miskin, karena ayahnya sudah meninggal. Ia akhirnya memutuskan untuk menjadi pengantar makanan. Saat itu, ia datang terlambat mengantarkan makanan ayah, karena ban sepedanya pecah di jalan. ia terlambat 2 jam. Sampai di apartemen ayah, ia menceritakan alasan keterlambatannya. Kau tahu Dam.dia begitu keringatan saat itu, karena habis berlari. Dari kejadian malam itu, kemudian ayah mulai mengenalnya. Masa kecil el capitano sama seperti kau Dam. Ia memiliki rambut keriting sama seperti kamu. Ia juga di panggil pengecut.
Dam yang mendengar cerita ayahnya, tertegun. Karena ia memiliki rambut keriting dan juga di sekolah di panggil pengecut oleh teman-temannya.
Kau tahu Dam, ia di panggil pengecut karena tidak bisa lolos seleksi klub pada saat pertama kali ia mendaftar, hanya karena ia kurang tinggi. Sejak saat itu, ia berjanji pada diri sendiri, untuk berlatih lebih banyak setiap hari. Belakang restoran, tempat ia bekerja, yang sebenarnya adalah gudang, ia jadikan tempat latihan. Setiap hari ia habiskan 3 jam untuk latihan menendang bola ke sasaran yang ia telah tandai di dinding. Ia tidak menggunakan bola seperti biasanya Dam, ia menggunakan bola kasti. Setiap hari seperti itu. Ia akan berhenti jika sudah ada panggilan untuk mengantar makanan.
Cerita ayahnya di malam itu, secara tidak sadar telah mempengaruhi Dam. Sejak malam itu, Dam memutuskan untuk menjadi loper koran. Dengan sepeda yang ia punya, pagi-pagi,sebelum berangkat sekolah, ia mengantar koran terlebih dahulu. Tentu saja itu gara-gara cerita ayahnya tentang el capitano idolanya, yang mengantar makanan dengan sepeda.
***
Hubungan Dam dengan ayahnya, yang begitu akrab, tiba-tiba terhenti. Itu terjadi ketika ibunya Dam meninggal. Dam menyalahkan ayahnya yang selalu berpikiran positif, bahwa penyakit ibunya tidak apa-apa. Karena pikiran ayahnya itu, ibunya tidak pernah di terapi, seperti saran dokter. Sejak kematian ibunya, Dam jarang pulang ke rumah. Ia lebih menyibukkan diri pada aktivitas kuliah. Kekesalannya pada ayahnya yang ia anggap sebagai pembohong, terus berlalu. Sampai saat ini, Dam yang telah memiliki dua anak, belum bisa memaklumi ayahnya.Bahkan kehadiran ayahnya di rumahnya, atas permintaan isterinya, telah membawa masalah baru baginya. Ayahnya selalu bercerita kepada dua cucunya, kalau nenek mereka, ibunya Dam adalah seorang bintang TV, selebritis yang terkenal. Dam, semakin emosi, pada ayahnya. Ia tidak ingin ke dua anaknya dibesarkan seperti dirinya, dibesarkan dengan cerita-cerita dongeng. Ia tidak ingin kedua anaknya mengalami nasib seperti dirinya. Ia marah pada ayahnya. Tetapi di sisi lain, cerita ayahnya waktu ia masih kecil, telah menjadi inspirasi baginya dalam menggapai semua kesuksesan, hingga ia menjadi seperti saat ini, perancang bangunan paling terkenal di kota. Namun, sakit hati atas kematian ibunya membuat ia harus menghentikan ayahnya mendongeng di hadapan anak-anaknya.
***
Dam tidak bisa menahan emosinya ketika ayahnya bercerita lagi di depan anak-anaknya tentang nenek mereka, ibunya Dam. Ia menceritakan kelau nenek mereka adalah artis terkenal. Dam semakin emosi kepada ayahnya. Artis terkenal? Bahkan sakitnya saja tidak di bawa di rumah sakit, terus kenapa ayahnya harus berbohong kepada ke dua anaknya. Dam marah, dan akhirnya memutuskan untuk membawa ayahnya pulang ke rumah asalnya. Ia tidak mau lagi, ayahnya tinggal bersamanya dan kedua cucunya. Ia tidak mau lagi mendengar isterinya Tani. Hingga keputusan terakhir, ayah harus pulang ke rumahnya. Rumah tempat Dam di besarkan. Ayahnya mengerti. Ia harus pergi. Tetapi sebelum pergi, ia berkata kepada Dam, “Ibumu sampai pada hari terakhirnya,ia bahagia Dam. Ibumu bahagia. Ayah tidak berbohong Dam.”
Setelah ayahnya pergi. Dam masuk ke kamar. Didekatinya laptop yang masih terhubung dengan internet. Ia mengetik nama ibunya di pencarian google. Satu detik berselang, dua belas ribu hasil pencarian muncul. Berita-berita yang pernah memuat tentang ibunya, artikel yang menulis tentangnya, kritikan, dan pujian atas kariernya sebagai seorang artis. Dam, membaca artikel tentagn penyakit yang di derita ibunya. Dokter bilang kalau umurnya, hanya akan bertahan selama kurang lebih dua tahun. Namun, kenyataannya, ibunya masih hidup sampai Dam beranjak dewasa. Apa yang menyebabkan ibunya bisa bertahan begitu lama, dari prediksi dokter? Dam teringat kata-kata ayahnya. “Ibumu sampai pada hari terkahirnya,ia bahagia Dam. Ibumu bahagia.” Kata-kata ayahnya itu, menyadarkan Dam, bahwa kebahagiaan bisa membuat orang bertahan lebih lama, dan membuat orang bisa kuat menghadapi masalah, begitu juga dengan masalah penyakit. Pernikahan ibunya dengan ayahnya, membuat ibunya mampu bertahan lebih lama, karena memang, ibunya bahagia. Ibunya bahagia dengan keluarga yang dibangunnya. Ia segera keluar mau mencari ayahnya, tiba-tiba hpnya berdering. Ada kabar bahwa Ayahnya ditemukan pingsan di pemakaman kota. Ayahnya pingsan di samping kubur ibunya.
***
Ayahnya telah siuman. Saat ini ayahnya berada di rumah sakit. Namun, sang ayahnya merasa begitu lemas. Dalam keadaan seperti itu, ayahnya memanggil Dam, dan kemudian mengatakan sesuatu.
“Dam, hakikat sejati kebahagiaan hidup itu berasal dari hati kau sendiri. Bagaimana kau membersihkan dan melapangkan hati, bertahun-tahun berlatih, bertahun-tahun belajar membuat hati lebih lapang, lebih dalam, dan lebih bersih. Kita tidak akan pernah merasakan kebahagiaan sejati dari kebahagiaan yang datang dari luar kita. Hadiah mendadak, kabar baik, keberuntungan, harta benda, pangkat, jabatan, semua itu tidak hakiki. Itu datang dari luar. Saat semua itu hilang, dengan cepat hilang pula kebahagiaan. Sebaliknya rasa sedih, kehilangan, kabar buruk, nasib buruk, itu semua juga akan datang dari luar. Saat semua itu datang dan hati kau dangkal, hati kau seketika keruh berkepanjangan.” Ayah mulai tersengal
“Ayah, istirahatlah dulu, besok saja kita lanjutkan.” Kata Dam
“Tidak, Dam. Kau harus mendengar ini sampai selesai.” Ayah kembali melanjutkan. “Berbeda halnya jika kau punya mata air sendiri di dalam hati. Mata air dalam hati itu konkret, dam. Amat terlihat. Mata itu menjadi sumber kebahagiaan tidak terkira. Bahkan ketika musuh kau mendapatkan kesenangan, keberuntungan, kau bisa ikut senang atas kabar baiknya, ikut bahagia, karena hati kau lapang dan dalam. Sementara orang-orang yang hatinya dangkal, sempit, dia dengan segera iri hati dan gelisah. Padahal apa susahnya ikut senang. Itulah hakikat sejati kebahagiaan hati, Dam.”
“Apakah ibu kau bahagia? Saat itu dia terkenal, kaya, dan berpengaruh. Hingga kesedihan itu tiba. Dia jatuh saat menghadiri pesta. Dokter bilang, usianya tidak akan lebih dari dua tahun. Ibu kau kehilangan gairah hidup. Orang-orang di sekitarnya bergegas pergi meninggalkannya. Ayah bertemu dengannya saat pesawat kami mengalami keterlambatan dua belas jam. Wajahnya pucat, tangannya sering gemetar. Kami berkenalan. Ayah menikah dengannya enam bulan kemudian. Ayah membawanya ke si Raja Tidur setahun kemudian. Kami bicara malam itu. Ibu kau bilang, dia setidaknya bisa bertahan setahun lagi. Dan kau lahir, Dam. Energi kebahagiaan saat melihat kau menangis menyambut kehidupan membuat ibu kau bertahan. Ibu kau bertahan bahkan lebih lama dibandingkan perkiraan si raja Tidur. Ibu kau bahagia, Dam, meski harus melupakan hari-hari hebatnya, meski harus hidup sederhana. Dia paham, dan memilih jalan itu, karena Ayah jauh-jauh hari juga sudah memilih jalan itu.” Ayah Dam mengeluarkan air mata saat bercerita.
“Apakah Ayah dan ibu kau bahagia? Kalau kau punya hati yang lapang, hati yang dalam, mata air kebahagiaan itu akan mengucur deras. Tidak ada kesedihan yang bisa merusaknya, termasuk kesedihan karena cemburu, iri, atau dengki. Sebaliknya, kebahagiaan atas gelar hebat, pangkat tinggi, harta benda, itu semua tidak akan menambah sedikit pun beningnya kebahagiaan yang kau miliki.” Ayah mengakhiri ceritanya dengan senyum yang mengembang.
“Apakah ibu kau bahagia, Dam? Kau sekarang tahu jawabannya.”
Saat Ayah Dam menyelesaikan perkataannya, Dam sudah memeluk ayahnya dengan sangat erat. Dam tidak menduga kalau itu adalah pelukan terakhir Dam untuk ayahnya.
***
Bagitulah seorang ayah. Di balik kesederhanaannya. Di balik sikapnya yang terkadang pendiam, ia memiliki begitu banyak cerita indah yang selalu memberi kan kita inspirasi. Dan anehnya inspirasi itu terkadang tidak kita sadari. Ia mengalir bagaikan air. Membawa kita pada kesejukan dan menemukan titik kesuksesan sejati. Ayah, engkau sungguh hebat. Tidak heran, Andrea Hirata, menyebut ayahnya sebagai ayah juara satu seluruh dunia. Dan bagaimanapun juga, setiap ayah adalah tetap seorang juara sejati kehidupan…

Sumber: novel tereliye : ayahku (bukan) Pembohong

Tuesday, 29 December 2015

Inspirasi Kaya dari Ippho Santosa

Si Kaya Makin Kaya, Kok Bisa?
Si miskin makin miskin…
Si kaya makin kaya…
Iya apa iya? Terus, kenapa?
Banyak sebabnya…
Dan ini salah satunya…
Perhatikan baik-baik siklus kemiskinan berikut ini:
Makin mengeluh & makin pelit >> hati makin gundah & nikmat makin berkurang >> makin miskin >> lebih miskin >> makin keteteran waktu >> sulit untuk dhuha & tahajjud >> makin miskin >> lebih miskin >> makin mengeluh & makin pelit
Dan begitulah seterusnya… Sampai kapan? Sampai Tarzan pakai baju gamis, hehe. Karena itulah, siklus ini harus dipatahkan. Ingatlah, menjadi kaya perlu proses. Bermental kaya? Nggak perlu. Kita dapat melakukannya detik ini juga… Dengan apa? Dengan bersyukur dan dermawan. Niscaya siklus kemiskinan tadi akan terpatahkan…
Terus, kenapa orang kaya makin kaya?
Banyak sebabnya…
Dan ini salah satunya…
Perhatikan baik-baik siklus Moslem Millionaire berikut ini:
Makin dermawan & makin bersyukur >> hati makin bahagia & nikmat makin bertambah >> makin kaya >> lebih kaya >> makin punya waktu luang >> makin rajin dhuha & tahajjud >> makin kaya >> lebih kaya >> makin dermawan & makin bersyukur
Dan begitulah seterusnya… Sampai kapan? Sampai Antam bikin keripik pedas, hehe. Siklus ini baiknya diperkuat. Benar-benar diperkuat. Niscaya hasilnya akan dahsyat. Ingatlah, menjadi hartawan perlu proses. Menjadi dermawan? Nggak perlu. Kita dapat melakukannya detik ini juga…
Sawah Besar, Semarang, 27 Desember 2015

Monday, 28 December 2015

Tentang Tipe Manusia



Ada tiga tipe manusia.
1. Tipe visual : gerakan mata ke atas. Orang tipe visual akan nyaman, dan senang ketika ber komunikasi dengan menggunakan gambar. seperti slide, atau apa pun yang bentuknya gambar. Oleh karena itu, jika memiliki teman yang bertipe visual, maka dalam komunikasi kita harus berusaha untuk menampilkan gambar di hadapannya. Gambar akan memudahkan ia untuk memahami apa yang kita sampaikan.

2. Tipe auditorial : gerakan mata ada di tengah, tidak ke atas tidak juga ke bawah. Oang tipe auditorial adalah tipe orang yang akan jauh lebih nyambung, lebih lengket, apabila kita menekankan pada aspek suara. Manajemen suara. Kapan volumenya tinggi, kapan volumenya rendah, kapan intonasi di tekankan dan kapan tidak perlu ditekan. Hal ini sangat berpengaruh dalam berkomunikasi dengan orang yang bertipe auditorial.

3. Tipe kinestetik : gerakan mata ke bawah : adalah orang-orang yang lebih menekankan pada perasaan, sentuhan. Bagi orang dengan tipe ini, walaupun kita hanya sekedar memegang bahunya, dia akan merasa senang dan respect terhadap kita. Orang tipe ini tidak terlalu suka dengan bahasa tubuh, tidak terlalu penting tentang apa yang dibicarakan, tetapi lebih suka terhadap sentuhan. Gerakan-gerakan secara langsung.

                                                     ***
Gerakan mata ke kiri (melihat ke kiri) mengindikasikan bahwa orang tersebut sedang mengingat sesuatu. biasanya adalah sesuatu yang sudah lewat. Sedangkan kalau gerakan mata ke arah kanan (melihat ke kanan) itu artinya seseorang sedang berimajinasi. Jika orang berusaha mengingat sesuatu secara otomatis ia akan melihat ke arah kiri, sedangkan jika berimajinasi ia akan melihat ke arah kanan.
Jika kita bertanya kepada seseorang tentang masa depannya, secara otomatis ia akan melirik ke arah kanan, karena otak kanan akan mengajaknya untuk berimajinasi. Sedangkan kalau kita bertanya pada seseorang mengenai sesuatu yang terjadi di masa lalunya, maka secara otomatis ia akan melirik ke arah kiri, karena otak kiri akan mengajaknya untuk berpikir mengingat sesuatu yang sudah pernah terjadi.
Yang menjadi menarik, ketika kita bertanya pada seseorang mengenai masa lalunya, tetapi ia melirik ke arah kanan, maka bisa dikatakan orang tersebut berbohong.

                                                               Sawah Besar, Semarang, 07 Desember 2015

Wednesday, 16 September 2015

Apa gunanya pengetahuan ?




Setiap hari, kita belajar dan mencari ilmu untuk mendapatkan sebuah pengetahuan. Dari pengetahuan ini, kemudian mengarahkan tindakan kita. Kita yang tahu api panas tidak akan menyentuh api. Kita yang tahu racun bahwa racun berbahaya, tidak akan meminum racun, kita yang tahu bahwa air panas sangat berbahaya bagi air tubuh, tidak akan mandi dengan air panas.
Tapi terkadang, pengetahuan yang kita miliki seakan tidak memberikan pengaruh apa-apa bagi kita. Saat ini, begitu banyak dari kita yang melalaikan hukum-hukum Tuhan. Kita bahkan terkadang merasa bangga dengan kemaksiatan yang kita lakukan. Kalau kita melakukan itu, karena kita tidak tahu, itu tidak menjadi masalah. Tapi saat ini bukankah kita memiliki petunjuk untuk hidup? bukankah Kita memiliki petunjuk untuk membawa umat manusia ke dalam kehidupan yang sejahtera dan adil ? tapi apa yang terjadi dengan kita. Kebanyakan dari kita hanya membaca petunjuk itu. Padahal, apa gunanya sebuah petunjuk jika hanya di baca. Apa gunanya sebuah resep obat dari dokter jika hanya di baca, tetapi kita tidak langsung ke apotek untuk membeli obat itu? Resep itu tidak akan memberikan apa-apa. Resep itu hanya akan berguna jika setelah kita baca, kita ke apotek beli obat, kemudian kita minum obat sesuai resep dari dokter tersebut. Semua orang juga tahu, adalah tindakan bodoh jika kita mengambil resep obat, kemudian hanya cukup membacanya. Jika kita hanya membaca dan mengetahui resep itu, tapi tidak melakukan apa-apa, terus apa fungsi dari pengetahuan kita, apa fungsi dari petunjuk tadi bagi kita?
Tapi hari ini, begitu banyak dari kita yang mengetahui petunjuk, tapi tidak melakukan apa-apa. Mungkin setiap hari kita baca kitab suci kita, tapi apalah arti sebuah kitab petunjuk jika hanya di baca. Kita tahu, bahwa hukum yang paling baik adalah yang berasal dari Allah, dan mungkin sudah sering kita baca ayat tentang itu, tetapi apa yang kita lakukan? Kita masih saja berhukum dengan hukum yang di buat oleh manusia. Kita masih saja memperjuangkan hukum yang di buat oleh manusia. Bahkan terkadang kita menganggap remeh orang-orang yang memperjuangkan hukum-hukum Allah. Kalau sudah seperti itu yang kita lakukan, terus apa gunanya pengetahuan yang kita miliki. Seakan-akan yang kita baca itu tidak memberikan petunjuk apa-apa.
Bukankah kita juga tahu bahwa demokrasi adalah sistem buatan Barat untuk melemahkan umat Islam. Jika kita sudah tahu, terus mengapa juga masih memperjuangkan demokrasi. Apa gunanya pengetahuan kita tentang demokrasi, jika kita masih juga memperjuangkannya. Dan kita juga tahu, bahwa ulama-ulama seperti Muhammad Iqbal, sayid Qutub, Almaududi, Al-afghani, tidak setuju dengan sistem yang di bawa oleh Barat. Mereka  telah mengorbankan diri  mereka, berjuang untuk kejayaan Islam, agar hukum-hukum Allah kembali tegak di muka bumi. Tetapi lagi-lagi, terkadang kita tidak mengikuti langkah-langkah yang telah mereka lakukan. Kita baca tulisan mereka, kita baca kisah perjuangan mereka, tetapi setelah kita baca dan tahu, terus apa yang kita lakukan? Apakah kita mengikuti langkah mereka memperjuangkan Islam untuk menggantikan sistem buatan barat, atau malah kita tidak melakukan apa-apa? Jika kita tidak melakukan apa-apa, terus apa gunanya pengetahuan yang kita dapat ?
Paling tidak, setelah kita tahu, kita sampaikan kepada yang lain, agar semangat para ulama, diketahui oleh orang lain, dan menjadi motivasi bagi orang lain untuk berjuang. Janganlah pengetahuan kita biarkan hanya sampai pada otak kita, tetapi kita jadikan pengetahuan itu sebagai pijakan untuk bergerak, karena dari gerakan itu kemudian akan mendatangkan hasil. Jika kita tidak bergerak, maka kita tidak akan mendapatkan hasil apa-apa.
Bukankah air yang tenang, menjadi air yang mudah kotor dan membusuk? Tetapi air yang selalu mengalir adalah air yang bersih membawa kebaikan bagi manusia. Air yang mengalirlah yang dijadikan manusia, sebagai sumber air minum. Harapan masih tetap ada, untuk kita berubah.  Selama nafas masih kita miliki, marilah kita mengukir jejak-jejak langkah kaki kita, berjuang untuk kehidupan yang lebih baik.

Sunday, 14 December 2014

Konsep Jiwa dalam Islam




Manusia adalah salah satu ciptaan allah SWT yang paling sempurna,sehingga keberadaan manusia ini menjadi kajian yang menarik dalam dunia ilmu pengetahuan. Mulai dari mengkaji manusia dari segi budaya, sosiologi, hingga dari segi psikologis manusia itu sendiri. Dari banyaknya kajian tentang manusia kemudian menyebabkan adanya kesimpulan yang berbeda pula mengenai manusia itu sendiri. Misal dalam kajian ilmu sosial disebutkan bahwa manusia itu tidak bisa hidup sendiri, sehingga manusia membutuhkan orang lain untuk memenuhi kebutuhannya. Dalam kajian budaya dikatakan bahwa pola perilaku manusia itu dipengaruhi oleh budaya tempat tinggal. Dari sekian banyaknya perbedaan pandangan mengenai manusia, dalam kajian ilmu psikologilah manusia di pandang dengan berbagai sudut pandang yang berbeda yang kemudian menimbulkan kesimpulan yang berbeda. Misal psikologi psikoanalisis, psikologi behavioristik, psikologi eksistensial, psikologi humanistik dan sebagainya.
Ilmu psikologi yang lahir dan berkembang di Barat menjelaskan tentang manusia atau jiwa manusia dengan penjelasan yang berbeda-beda. Hal ini dikarenakan luasnya cakupan tentang jiwa itu sendiri, sehingga memunculkan beberapa teori dengan melihat dari bagian-bagian dari jiwa manusia, yang pada akhirnya dari teori yang ada itu belum mampu untuk menjelaskan hakikat dari jiwa manusia itu sendiri. Oleh karena itu, untuk dapat memahami lebih jauh tentang jiwa, perlu juga kita merujuk pada kitab suci ( Al-Qur’an ) untuk mengetahui bagaimana Islam memandang atau memberikan konsep tentang jiwa.

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui konsep jiwa di dalam Islam

Makalah ini diharapkan dapat memberikan sumbangsih pengetahuan tentang jiwa menurut Islam, sehingga kita tidak hanya terpaku dengan teori-teori psikologi yang membahas tentang jiwa yang berasal dari barat.

Jiwa dalam bahasa Arab di kenal dengan istilah Nafs (النفس ) merupakan suatu kata yang memiliki arti banyak, sehingga harus dipahami sesuai dengan penggunaannya. Kata Nafs (النفس ) dalam Alqur’an memiliki beberapa arti, yaitu sebagai berikut.[1]
1.      Jiwa atau sesuatu yang memiliki eksistensi dan hakikat. Dalam pengertian ini, Nafs terdiri atas tubuh dan ruh, sebagaimana tampak dalam  ayat Alqur’an
“dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa.....”.( al-Maidah : 45 )

2.      Nyawa yang menyebabkan adanya kehidupan. Apabila nyawa ini hilang, maka kematian akan dialami. Nafs dalam artian ini tampak dalam Al-qur’an
“......Para Malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): "Keluarkanlah nyawamu" di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan,....”         ( Al-an’am : 93 )

3.      Suatu sifat pada manusia yang memiliki kecenderungan kepada kebaikan dan juga kejahatan. Hal ini tampak dalam ayat Alqur’an
  
“Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, Maka jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi.” ( Al-maidah : 30 )

4.      Sifat pada diri manusia yang berupa perasaan dan indra yang ditinggalkannya ketika ia tertidur, tampak dalam Alqur’an
“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; Maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan....” ( Az-zumar : 42 )

Dari beberapa  definisi di atas dapat di simpulkan bahwa Nafs ( jiwa ) dalam pandangan Islam adalah diri manusia itu sendiri, nyawa ( roh ) yang menyebabkan adanya kehidupan, sifat yang mendorong manusia untuk melakukan suatu perbuatan, dan perasaan pada diri manusia.
Sedangkan dalam pandangan psikoanalisis jiwa diartikan sebagai suatu keadaan dalam diri manusia yang terdiri dari keadaan sadar ( alam sadar ) dan keadaan tidak sadar      ( alam tidak sadar ), dari dua keadaan ( alam tersebut yang  mendorong untuk melakukan suatu perbuatan adalah alam tidak sadar.[2] Oleh karena itu, dalam pandangan Psikoanalisis suatu perbuatan yang dilakukan oleh manusia berasal dari alam tidak sadar, baik itu perilaku yang baik maupun perilaku yang tidak baik, semua berasal dari alam tidak sadar.
Jika di lihat dari definisi nafs dalam Alqur’an di mana nafs adalah sifat yang mendorong manusia untuk melakukan suatu perbuatan, maka ada sedikit kemiripan dengan definisi jiwa dalam pendekatan psikoanalisis dalam kajian ilmu psikologi barat. Namun dalam faktor yang menyebabkan timbulnya suatu perilaku itu ada perbedaan, antara konsep Islam dengan konsep psikoanalisis. Untuk mengetahui perbedaannya akan di jelaskan bagaimana pembagian jiwa dalam konsep Islam dan konsep psikoanalisis.


Dalam konsep Islam,  Nafs ( jiwa ) di bagi menjadi lima  bagian, yaitu[3]
1.      Nafs Sawiyyah Mullahamah ( diri manusia yang lurus dan selalu mendapat ilham Tuhannya )
2.      Nafs Ammarah Bissu’i ( diri manusia yang selalu cenderung untuk melakukan perbuatan buruk )
3.      Nafs Lawwamah ( diri manusia yang selalu menyesali dan ragu ).
4.      Nafs Zakiyyah ( diri manusia yang suci dan tidak terkontaminasi dengan sesuatu ).
5.      Nafs Muthmainnah Radhiyah ( diri manusia yang dipenuhi dengan ketenangan hidup).

    Dalam konsep psikoanalisis, pembagian struktur jiwa manusia menjadi tiga bagian[4], yaitu :
1.      Lapisan kesadaran yang berisi hasil pengamatan kita terhadap dunia sekitar.
2.      Lapisan bawah sadar, berisi hal-hal yang dilupakan, tetapi jika ada perangsang atau stimulus akan muncul dalam lapisan kesadaran.
3.      Lapisan yang tidak disadari, yang berisi kompleks-kompleks yang terdesak, seperti Das Es ( id ), Das ich ( ego ) dan Das uber ich ( super Ego ).

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa dalam pandangan psikoanalisis semua perilaku manusia di doroang oleh lapisan yang tidak di sadari yang terdiri dari Das Es ( id ), Das Ich ( ego ), dan Das Uber Ich ( super ego ). Id merupakan suatu energi yang ada dalam diri manusia yang tujuannya untuk menghindari ketegangan dan mencari kesenangan. Id ini di dorong oleh suatu energi psikis yang oleh Freud di sebut sebagai libido[5],sebagai contoh ketikan seseorang merasa lapar, maka akan terjadi ketegangan, sehingga orang tersebut akan berusaha untuk menghilangkan rasa tegang tersebut. Ego merupakan penghubungan antara Id dengan dunia nyata untuk memenuhi tuntutan dari Id. Jika Id berdasarkan prinsip kenikmatan, maka ego berdasarkan prinsip realita atau kenyataan[6], sehingga dalam usaha untuk memenuhi tuntutan dari Id, ego menyesuaikannya dengan kenyataan. Sedangkan super ego adalah aspek-aspek moral yang di dapat dalam lingkungan masyarakat atau nilai-nilai yang diajarkan oleh orang tua[7]. Adanya super ego inilah yang menyebabkan individu merasa bersalah apabila melakukan suatu perbuatan yang melanggar norma-norma dalam lingkungan sosial. Adanya super ego ini juga menyebabkan individu berperilaku tidak sesuai dengan dorongan Id, sehingga dorongan itu di tekan dan kemudian diwujudkan dalam perilaku yang berbentuk lain yang bisa di terima oleh lingkungan sosial, yang disebut dengan mekanisme pertahanan diri ( defense mechanisms )[8]. Berdasarkan penjelasan di atas, maka segala perilaku manusia itu di dorong oleh Id, yang didasari oleh suatu energi psikis yang oleh Freud disebut dengan libido seksual. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa segala perilaku manusia baik itu yang baik maupun yang buruk itu semua berasal dari dorongan libido seksual.

Islam memiliki pandangan sendiri mengani perilaku manusia yang berbeda dengan konsep psikoanalis. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan struktur kejiwaan yang ada dalam diri manusia menurut Islam dan Psikoanalisis. Dalam Islam struktur jiwa ( Nafs ) ada lima yaitu, Nafs Sawiyyah Mullahamah, Nafs Ammarah Bissu’i, Nafs Lawwamah, Nafs Zakiyyah, dan Nafs Muthmainnah Radhiyah.
a.      Nafs Sawiyyah Mullahamah
Penjelasan mengenai Nafs Sawiyyah Mullahamah ini didasari dari ayat alqur’an pada surah Asy-Syams ayat 7-8 :
  
“dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.”
Berdasarkan pendapat dari beberapa pakar tafsir diketahui bahwa ilham yang dimaksud pada ayat di atas adalah fitrah yang di terima manusia melalui Allah SWT. oleh karena itu, manusia memang diciptakan dengan fitrah dan dari fitrah itu kemudian manusia bisa memilih untuk menyalurkan fitrah itu pada jalan ketakwaan atau jalan kefasikan.[9] Pilihan inilah yang kemudian akan di hisab Allah di hari perhitungan nanti, jika memilih jalan taqwa Allah telah menyediakan surga sebagai balasan,dan jika memilih jalan kefasikan Allah juga telah  menyediakan neraka sebagai balasan.[10]
b.       Nafs Ammarah Bissu’i
Nafs Ammarah Bissu’i memiliki pengertian diri manusia yang selalu cenderung melakukan perbuatan buruk. Kondisi seperti ini terjadi pada manusia bukan karena sifat manusia pada dasarnya adalah buruk, tetapi karena manusia tidak mampu menghadapi godaan setan, sehingga manusia tersebut cenderung untuk melakukan perbuatan yang buruk. Dalam hal ini, ketika Nafs Ammarah Bissu’i ada dalam diri manusia, maka manusia tersebut telah memilih jalan kefasikan. Ia telah menyalahgunakan fitrah yang diberikan Allah kepadanya,di mana secara fitrah manusia itu akan selalu melakukan kebaikan atau perbuatan-perbuatan yang baik.[11]
c.       Nafs Lawwamah 
Nafs Lawwamah   berarti diri manusia yang selalu menyesali dan ragu. Dalam hal ini manusia memiliki kemampuan untuk bisa merenungkan kejadian yang telah dialaminya pada masa lampau. Jika penyesalan ini ada pada orang beriman, maka hal ini akan dijadikan sebagai intropeksi diri untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi dalam beribadah kepada Allah SWT. penyesalan yang dialaminya membangkitkan fitrah untuk bisa menempatkan diri dan mengaktualisasikan diri sesuai dengan yang digariskan oleh Allah SWT.[12]
d.      Nafs Zakiyyah
Nafs Zakiyah (diri manusia yang suci dan tidak terkontaminasi dengan sesuatu)  ini akan dialami individu bila ia mampu mengendalikan segala keburukan dari dorongan psikis yang telah ada dalam diri manusia. Dorongan psikis ini adalah fitrah yang diberikan oleh Allah kepada manusia, seperti dorongan untuk mempertahankan diri, dorongan seksual dan dorongan untuk beragama. Apabila manusia telah mampu mengendalikan dorongan-dorongan tersebut dengan baik, dan hanya menyalurkan dorongan tersebut sesuai dengan tujuan penciptaan manusia, maka manusia telah berada dalam tingkatan Nafs Zakiyah.[13]

e.       Nafs Muthmainnah Radhiyah
Ketika manusia telah ridha dengan keadaan dirinya, ridha dengan keadaan yang mengantarkan ia merasa bahagia dan tenang, maka pada saat itu ia telah berada dalam Nafs Muthmainnah Radhiyah ( diri manusia yang dipenuhi dengan ketenangan hidup). Keridhaan adalah suatu kebahagiaan yang menyelimuti manusia, sehingga ketika manusia itu telah ridha maka ia tidak akan mengalami kegelisahan. Hal itulah yang menyebabkan Allah menjadikan keridaan ini sebagai tujuan akhir dari suatu usaha yang dilakukan manusia, dan balasan bagi  mereka yang ridha adalah kembali kepada Allah SWT dalam keadaan bahagia dan akan digolongkan ke dalam golongan orang yang beriman.[14]

























Berdasarkan penjelasan di  pembahasan, maka dapat diketahui perbedaan antara konsep psikoanalisis dan konsep Islam mengani jiwa manusia. Menurut konsep analisis segala perilaku manusia, baik itu perilaku yang baik maupun yang buruk di dorong oleh libido seksual yang bertujuan untuk mendapatkan kesenangan atau kenikmatan. Sedangkan dalam konsep Islam di dorong oleh adanya fitrah yang diberikan oleh Allah kepada manusia, yang tujuannya untuk beribadah kepada Allah SWT, meskipun dalam konsep Islam segala perilaku juga bertujuan untuk mendapatkan kebahagiaan, namun hal itu berbeda dengan konsep untuk mendapatkan kesenangan dalam psikoanalisis. Konsep mencari kebahagiaan dalam Islam adalah untuk mendapatkan ridha Allah SWT, sehingga dalam Islam tidak di kenal istilah mekanisme pertahanan diri ( defense mechanisms ).

Melalui makalah ini penulis ingin menyampaikan kepada pembaca supaya dalam mengkaji ilmu pengetahuan tidak hanya berdasarkan sudut pandang teori yang berasal dari barat, tetapi juga harus mengkaji ilmu pengetahuan, khususnya ilmu-ilmu sosial dengan sudut pandang Islam.


[1] Muhammad Izzuddin Taufiq, Panduan Lengkap dan Praktis Psikologi Islami, ( Jakarta : Gema Insani, 2006 ), h. 70-72
[2] Jess Feist, teori kepribadian, ( Jakarta : Salemba Humanika, 2011 ), h. 27
[3] Muhammad Izzuddin Taufiq, Ibid, 97
[4] Agus sujanto, Psikologi Umum, ( Jakarta : Bumi Aksara, cet.12, 2004 ), h. 134
[5] CaroleWade, psikologi Jilid 2, ( Jakarta : Erlangga, 2007 ). H. 195.
[6] Jess Feist, Ibid, 32
[7] Carole Wade, Ibid
[8] Ibid, 196
[9] Muhammad Izzuddin Taufiq, Ibid,103.
[10] Taqiyuddin an-Nabhani, Peraturan Hidup dalam Islam, ( Jakarta : HTI Press, cet.9, 2012 ), h. 40
[11] Muhammad Izzuddin Taufiq, ibid.
[12] Ibid, 106
[13] Ibid, 107
[14] Ibid, 108 -109