Sunday, 14 December 2014

Konsep Jiwa dalam Islam




Manusia adalah salah satu ciptaan allah SWT yang paling sempurna,sehingga keberadaan manusia ini menjadi kajian yang menarik dalam dunia ilmu pengetahuan. Mulai dari mengkaji manusia dari segi budaya, sosiologi, hingga dari segi psikologis manusia itu sendiri. Dari banyaknya kajian tentang manusia kemudian menyebabkan adanya kesimpulan yang berbeda pula mengenai manusia itu sendiri. Misal dalam kajian ilmu sosial disebutkan bahwa manusia itu tidak bisa hidup sendiri, sehingga manusia membutuhkan orang lain untuk memenuhi kebutuhannya. Dalam kajian budaya dikatakan bahwa pola perilaku manusia itu dipengaruhi oleh budaya tempat tinggal. Dari sekian banyaknya perbedaan pandangan mengenai manusia, dalam kajian ilmu psikologilah manusia di pandang dengan berbagai sudut pandang yang berbeda yang kemudian menimbulkan kesimpulan yang berbeda. Misal psikologi psikoanalisis, psikologi behavioristik, psikologi eksistensial, psikologi humanistik dan sebagainya.
Ilmu psikologi yang lahir dan berkembang di Barat menjelaskan tentang manusia atau jiwa manusia dengan penjelasan yang berbeda-beda. Hal ini dikarenakan luasnya cakupan tentang jiwa itu sendiri, sehingga memunculkan beberapa teori dengan melihat dari bagian-bagian dari jiwa manusia, yang pada akhirnya dari teori yang ada itu belum mampu untuk menjelaskan hakikat dari jiwa manusia itu sendiri. Oleh karena itu, untuk dapat memahami lebih jauh tentang jiwa, perlu juga kita merujuk pada kitab suci ( Al-Qur’an ) untuk mengetahui bagaimana Islam memandang atau memberikan konsep tentang jiwa.

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui konsep jiwa di dalam Islam

Makalah ini diharapkan dapat memberikan sumbangsih pengetahuan tentang jiwa menurut Islam, sehingga kita tidak hanya terpaku dengan teori-teori psikologi yang membahas tentang jiwa yang berasal dari barat.

Jiwa dalam bahasa Arab di kenal dengan istilah Nafs (النفس ) merupakan suatu kata yang memiliki arti banyak, sehingga harus dipahami sesuai dengan penggunaannya. Kata Nafs (النفس ) dalam Alqur’an memiliki beberapa arti, yaitu sebagai berikut.[1]
1.      Jiwa atau sesuatu yang memiliki eksistensi dan hakikat. Dalam pengertian ini, Nafs terdiri atas tubuh dan ruh, sebagaimana tampak dalam  ayat Alqur’an
“dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa.....”.( al-Maidah : 45 )

2.      Nyawa yang menyebabkan adanya kehidupan. Apabila nyawa ini hilang, maka kematian akan dialami. Nafs dalam artian ini tampak dalam Al-qur’an
“......Para Malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): "Keluarkanlah nyawamu" di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan,....”         ( Al-an’am : 93 )

3.      Suatu sifat pada manusia yang memiliki kecenderungan kepada kebaikan dan juga kejahatan. Hal ini tampak dalam ayat Alqur’an
  
“Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, Maka jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi.” ( Al-maidah : 30 )

4.      Sifat pada diri manusia yang berupa perasaan dan indra yang ditinggalkannya ketika ia tertidur, tampak dalam Alqur’an
“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; Maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan....” ( Az-zumar : 42 )

Dari beberapa  definisi di atas dapat di simpulkan bahwa Nafs ( jiwa ) dalam pandangan Islam adalah diri manusia itu sendiri, nyawa ( roh ) yang menyebabkan adanya kehidupan, sifat yang mendorong manusia untuk melakukan suatu perbuatan, dan perasaan pada diri manusia.
Sedangkan dalam pandangan psikoanalisis jiwa diartikan sebagai suatu keadaan dalam diri manusia yang terdiri dari keadaan sadar ( alam sadar ) dan keadaan tidak sadar      ( alam tidak sadar ), dari dua keadaan ( alam tersebut yang  mendorong untuk melakukan suatu perbuatan adalah alam tidak sadar.[2] Oleh karena itu, dalam pandangan Psikoanalisis suatu perbuatan yang dilakukan oleh manusia berasal dari alam tidak sadar, baik itu perilaku yang baik maupun perilaku yang tidak baik, semua berasal dari alam tidak sadar.
Jika di lihat dari definisi nafs dalam Alqur’an di mana nafs adalah sifat yang mendorong manusia untuk melakukan suatu perbuatan, maka ada sedikit kemiripan dengan definisi jiwa dalam pendekatan psikoanalisis dalam kajian ilmu psikologi barat. Namun dalam faktor yang menyebabkan timbulnya suatu perilaku itu ada perbedaan, antara konsep Islam dengan konsep psikoanalisis. Untuk mengetahui perbedaannya akan di jelaskan bagaimana pembagian jiwa dalam konsep Islam dan konsep psikoanalisis.


Dalam konsep Islam,  Nafs ( jiwa ) di bagi menjadi lima  bagian, yaitu[3]
1.      Nafs Sawiyyah Mullahamah ( diri manusia yang lurus dan selalu mendapat ilham Tuhannya )
2.      Nafs Ammarah Bissu’i ( diri manusia yang selalu cenderung untuk melakukan perbuatan buruk )
3.      Nafs Lawwamah ( diri manusia yang selalu menyesali dan ragu ).
4.      Nafs Zakiyyah ( diri manusia yang suci dan tidak terkontaminasi dengan sesuatu ).
5.      Nafs Muthmainnah Radhiyah ( diri manusia yang dipenuhi dengan ketenangan hidup).

    Dalam konsep psikoanalisis, pembagian struktur jiwa manusia menjadi tiga bagian[4], yaitu :
1.      Lapisan kesadaran yang berisi hasil pengamatan kita terhadap dunia sekitar.
2.      Lapisan bawah sadar, berisi hal-hal yang dilupakan, tetapi jika ada perangsang atau stimulus akan muncul dalam lapisan kesadaran.
3.      Lapisan yang tidak disadari, yang berisi kompleks-kompleks yang terdesak, seperti Das Es ( id ), Das ich ( ego ) dan Das uber ich ( super Ego ).

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa dalam pandangan psikoanalisis semua perilaku manusia di doroang oleh lapisan yang tidak di sadari yang terdiri dari Das Es ( id ), Das Ich ( ego ), dan Das Uber Ich ( super ego ). Id merupakan suatu energi yang ada dalam diri manusia yang tujuannya untuk menghindari ketegangan dan mencari kesenangan. Id ini di dorong oleh suatu energi psikis yang oleh Freud di sebut sebagai libido[5],sebagai contoh ketikan seseorang merasa lapar, maka akan terjadi ketegangan, sehingga orang tersebut akan berusaha untuk menghilangkan rasa tegang tersebut. Ego merupakan penghubungan antara Id dengan dunia nyata untuk memenuhi tuntutan dari Id. Jika Id berdasarkan prinsip kenikmatan, maka ego berdasarkan prinsip realita atau kenyataan[6], sehingga dalam usaha untuk memenuhi tuntutan dari Id, ego menyesuaikannya dengan kenyataan. Sedangkan super ego adalah aspek-aspek moral yang di dapat dalam lingkungan masyarakat atau nilai-nilai yang diajarkan oleh orang tua[7]. Adanya super ego inilah yang menyebabkan individu merasa bersalah apabila melakukan suatu perbuatan yang melanggar norma-norma dalam lingkungan sosial. Adanya super ego ini juga menyebabkan individu berperilaku tidak sesuai dengan dorongan Id, sehingga dorongan itu di tekan dan kemudian diwujudkan dalam perilaku yang berbentuk lain yang bisa di terima oleh lingkungan sosial, yang disebut dengan mekanisme pertahanan diri ( defense mechanisms )[8]. Berdasarkan penjelasan di atas, maka segala perilaku manusia itu di dorong oleh Id, yang didasari oleh suatu energi psikis yang oleh Freud disebut dengan libido seksual. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa segala perilaku manusia baik itu yang baik maupun yang buruk itu semua berasal dari dorongan libido seksual.

Islam memiliki pandangan sendiri mengani perilaku manusia yang berbeda dengan konsep psikoanalis. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan struktur kejiwaan yang ada dalam diri manusia menurut Islam dan Psikoanalisis. Dalam Islam struktur jiwa ( Nafs ) ada lima yaitu, Nafs Sawiyyah Mullahamah, Nafs Ammarah Bissu’i, Nafs Lawwamah, Nafs Zakiyyah, dan Nafs Muthmainnah Radhiyah.
a.      Nafs Sawiyyah Mullahamah
Penjelasan mengenai Nafs Sawiyyah Mullahamah ini didasari dari ayat alqur’an pada surah Asy-Syams ayat 7-8 :
  
“dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.”
Berdasarkan pendapat dari beberapa pakar tafsir diketahui bahwa ilham yang dimaksud pada ayat di atas adalah fitrah yang di terima manusia melalui Allah SWT. oleh karena itu, manusia memang diciptakan dengan fitrah dan dari fitrah itu kemudian manusia bisa memilih untuk menyalurkan fitrah itu pada jalan ketakwaan atau jalan kefasikan.[9] Pilihan inilah yang kemudian akan di hisab Allah di hari perhitungan nanti, jika memilih jalan taqwa Allah telah menyediakan surga sebagai balasan,dan jika memilih jalan kefasikan Allah juga telah  menyediakan neraka sebagai balasan.[10]
b.       Nafs Ammarah Bissu’i
Nafs Ammarah Bissu’i memiliki pengertian diri manusia yang selalu cenderung melakukan perbuatan buruk. Kondisi seperti ini terjadi pada manusia bukan karena sifat manusia pada dasarnya adalah buruk, tetapi karena manusia tidak mampu menghadapi godaan setan, sehingga manusia tersebut cenderung untuk melakukan perbuatan yang buruk. Dalam hal ini, ketika Nafs Ammarah Bissu’i ada dalam diri manusia, maka manusia tersebut telah memilih jalan kefasikan. Ia telah menyalahgunakan fitrah yang diberikan Allah kepadanya,di mana secara fitrah manusia itu akan selalu melakukan kebaikan atau perbuatan-perbuatan yang baik.[11]
c.       Nafs Lawwamah 
Nafs Lawwamah   berarti diri manusia yang selalu menyesali dan ragu. Dalam hal ini manusia memiliki kemampuan untuk bisa merenungkan kejadian yang telah dialaminya pada masa lampau. Jika penyesalan ini ada pada orang beriman, maka hal ini akan dijadikan sebagai intropeksi diri untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi dalam beribadah kepada Allah SWT. penyesalan yang dialaminya membangkitkan fitrah untuk bisa menempatkan diri dan mengaktualisasikan diri sesuai dengan yang digariskan oleh Allah SWT.[12]
d.      Nafs Zakiyyah
Nafs Zakiyah (diri manusia yang suci dan tidak terkontaminasi dengan sesuatu)  ini akan dialami individu bila ia mampu mengendalikan segala keburukan dari dorongan psikis yang telah ada dalam diri manusia. Dorongan psikis ini adalah fitrah yang diberikan oleh Allah kepada manusia, seperti dorongan untuk mempertahankan diri, dorongan seksual dan dorongan untuk beragama. Apabila manusia telah mampu mengendalikan dorongan-dorongan tersebut dengan baik, dan hanya menyalurkan dorongan tersebut sesuai dengan tujuan penciptaan manusia, maka manusia telah berada dalam tingkatan Nafs Zakiyah.[13]

e.       Nafs Muthmainnah Radhiyah
Ketika manusia telah ridha dengan keadaan dirinya, ridha dengan keadaan yang mengantarkan ia merasa bahagia dan tenang, maka pada saat itu ia telah berada dalam Nafs Muthmainnah Radhiyah ( diri manusia yang dipenuhi dengan ketenangan hidup). Keridhaan adalah suatu kebahagiaan yang menyelimuti manusia, sehingga ketika manusia itu telah ridha maka ia tidak akan mengalami kegelisahan. Hal itulah yang menyebabkan Allah menjadikan keridaan ini sebagai tujuan akhir dari suatu usaha yang dilakukan manusia, dan balasan bagi  mereka yang ridha adalah kembali kepada Allah SWT dalam keadaan bahagia dan akan digolongkan ke dalam golongan orang yang beriman.[14]

























Berdasarkan penjelasan di  pembahasan, maka dapat diketahui perbedaan antara konsep psikoanalisis dan konsep Islam mengani jiwa manusia. Menurut konsep analisis segala perilaku manusia, baik itu perilaku yang baik maupun yang buruk di dorong oleh libido seksual yang bertujuan untuk mendapatkan kesenangan atau kenikmatan. Sedangkan dalam konsep Islam di dorong oleh adanya fitrah yang diberikan oleh Allah kepada manusia, yang tujuannya untuk beribadah kepada Allah SWT, meskipun dalam konsep Islam segala perilaku juga bertujuan untuk mendapatkan kebahagiaan, namun hal itu berbeda dengan konsep untuk mendapatkan kesenangan dalam psikoanalisis. Konsep mencari kebahagiaan dalam Islam adalah untuk mendapatkan ridha Allah SWT, sehingga dalam Islam tidak di kenal istilah mekanisme pertahanan diri ( defense mechanisms ).

Melalui makalah ini penulis ingin menyampaikan kepada pembaca supaya dalam mengkaji ilmu pengetahuan tidak hanya berdasarkan sudut pandang teori yang berasal dari barat, tetapi juga harus mengkaji ilmu pengetahuan, khususnya ilmu-ilmu sosial dengan sudut pandang Islam.


[1] Muhammad Izzuddin Taufiq, Panduan Lengkap dan Praktis Psikologi Islami, ( Jakarta : Gema Insani, 2006 ), h. 70-72
[2] Jess Feist, teori kepribadian, ( Jakarta : Salemba Humanika, 2011 ), h. 27
[3] Muhammad Izzuddin Taufiq, Ibid, 97
[4] Agus sujanto, Psikologi Umum, ( Jakarta : Bumi Aksara, cet.12, 2004 ), h. 134
[5] CaroleWade, psikologi Jilid 2, ( Jakarta : Erlangga, 2007 ). H. 195.
[6] Jess Feist, Ibid, 32
[7] Carole Wade, Ibid
[8] Ibid, 196
[9] Muhammad Izzuddin Taufiq, Ibid,103.
[10] Taqiyuddin an-Nabhani, Peraturan Hidup dalam Islam, ( Jakarta : HTI Press, cet.9, 2012 ), h. 40
[11] Muhammad Izzuddin Taufiq, ibid.
[12] Ibid, 106
[13] Ibid, 107
[14] Ibid, 108 -109

No comments:

Post a Comment