Ayah adalah orang yang selalu hadir ketika kita menghadapi masalah. Ayah
selalu hadir di kala kita kehilangan semangat dalam mengejar impian.
Dan ayah selalu menjadi sosok yang memberi motivasi dan inspirasi di
kala semangat itu perlahan-lahan mulai meredup. Ayah selalu hadir untuk
menyalakan kembali semangat-semangat itu, memberikan berbagai macam
cerita, entah itu dongeng atau pengalamannya, untuk memberikan kita
inspirasi dan semangat. Mungkin, ayah akan kelihatan sedikit bicara atau
pendiam, tetapi ia selalu ada di saat-saat yang tepat. Memang, ayah
tidak terlatih seperti ibu untuk mengekspresikan perasaannya di depan
kita, dengan kata-kata lembut dan menyentuh. Tetapi ia lebih banyak
bercerita untuk membesarkan hati kita, dan membawa kita dalam keberanian
menggapai impian. Ia mengajari kita menghadapi kehidupan, lewat
cerita-cerita yang ia sampaikan. Disadari atau tidak,,, kita hari ini,
entah seperti apa kita, ada peran ayah di situ, yang membentuk
kepribadian kita.
***
Laki-laki itu bernama Dam. Ia begitu
sedih melihat klub kebanggaannya kalah tipis sama tim lawan dengan skor
3:2. Di tambah lagi, pemain kebanggaannya, yang dijuluki el capitano,
harus di tandu keluar lapangan, karena cedera. Ia tidak bisa berkata
apa-apa. Ayahnya ada di sampingnya. Mereka sama-sama menonton
pertandingan semifinal yang menegangkan itu.
“Dam, jangan kamu berkecil hati.
pertandingan berikutnya, di kandang lawan el capitano akan membalas
kekalahan hari ini,” kata ayah Dam.
“Dari mana ayah tahu,” tanya Dam dengan nada kesal.
Ayah kenal betul sama pemain kebanggaanmu
itu. Dia adalah pemain yang tidak gampang menyerah. waktu ayah masih
belajar S2 di kota pemain kebanggaanmu itu, saat itulah saya
mengenalnya. Dia masih kecil. Orang tuanya terhitung miskin, karena
ayahnya sudah meninggal. Ia akhirnya memutuskan untuk menjadi pengantar
makanan. Saat itu, ia datang terlambat mengantarkan makanan ayah, karena
ban sepedanya pecah di jalan. ia terlambat 2 jam. Sampai di apartemen
ayah, ia menceritakan alasan keterlambatannya. Kau tahu Dam.dia begitu
keringatan saat itu, karena habis berlari. Dari kejadian malam itu,
kemudian ayah mulai mengenalnya. Masa kecil el capitano sama seperti kau
Dam. Ia memiliki rambut keriting sama seperti kamu. Ia juga di panggil
pengecut.
Dam yang mendengar cerita ayahnya,
tertegun. Karena ia memiliki rambut keriting dan juga di sekolah di
panggil pengecut oleh teman-temannya.
Kau tahu Dam, ia di panggil pengecut
karena tidak bisa lolos seleksi klub pada saat pertama kali ia
mendaftar, hanya karena ia kurang tinggi. Sejak saat itu, ia berjanji
pada diri sendiri, untuk berlatih lebih banyak setiap hari. Belakang
restoran, tempat ia bekerja, yang sebenarnya adalah gudang, ia jadikan
tempat latihan. Setiap hari ia habiskan 3 jam untuk latihan menendang
bola ke sasaran yang ia telah tandai di dinding. Ia tidak menggunakan
bola seperti biasanya Dam, ia menggunakan bola kasti. Setiap hari
seperti itu. Ia akan berhenti jika sudah ada panggilan untuk mengantar
makanan.
Cerita ayahnya di malam itu, secara tidak
sadar telah mempengaruhi Dam. Sejak malam itu, Dam memutuskan untuk
menjadi loper koran. Dengan sepeda yang ia punya, pagi-pagi,sebelum
berangkat sekolah, ia mengantar koran terlebih dahulu. Tentu saja itu
gara-gara cerita ayahnya tentang el capitano idolanya, yang mengantar
makanan dengan sepeda.
***
Hubungan Dam dengan ayahnya, yang begitu
akrab, tiba-tiba terhenti. Itu terjadi ketika ibunya Dam meninggal. Dam
menyalahkan ayahnya yang selalu berpikiran positif, bahwa penyakit
ibunya tidak apa-apa. Karena pikiran ayahnya itu, ibunya tidak pernah di
terapi, seperti saran dokter. Sejak kematian ibunya, Dam jarang pulang
ke rumah. Ia lebih menyibukkan diri pada aktivitas kuliah. Kekesalannya
pada ayahnya yang ia anggap sebagai pembohong, terus berlalu. Sampai
saat ini, Dam yang telah memiliki dua anak, belum bisa memaklumi
ayahnya.Bahkan kehadiran ayahnya di rumahnya, atas permintaan isterinya,
telah membawa masalah baru baginya. Ayahnya selalu bercerita kepada dua
cucunya, kalau nenek mereka, ibunya Dam adalah seorang bintang TV,
selebritis yang terkenal. Dam, semakin emosi, pada ayahnya. Ia tidak
ingin ke dua anaknya dibesarkan seperti dirinya, dibesarkan dengan
cerita-cerita dongeng. Ia tidak ingin kedua anaknya mengalami nasib
seperti dirinya. Ia marah pada ayahnya. Tetapi di sisi lain, cerita
ayahnya waktu ia masih kecil, telah menjadi inspirasi baginya dalam
menggapai semua kesuksesan, hingga ia menjadi seperti saat ini,
perancang bangunan paling terkenal di kota. Namun, sakit hati atas
kematian ibunya membuat ia harus menghentikan ayahnya mendongeng di
hadapan anak-anaknya.
***
Dam tidak bisa menahan emosinya ketika
ayahnya bercerita lagi di depan anak-anaknya tentang nenek mereka,
ibunya Dam. Ia menceritakan kelau nenek mereka adalah artis terkenal.
Dam semakin emosi kepada ayahnya. Artis terkenal? Bahkan sakitnya saja
tidak di bawa di rumah sakit, terus kenapa ayahnya harus berbohong
kepada ke dua anaknya. Dam marah, dan akhirnya memutuskan untuk membawa
ayahnya pulang ke rumah asalnya. Ia tidak mau lagi, ayahnya tinggal
bersamanya dan kedua cucunya. Ia tidak mau lagi mendengar isterinya
Tani. Hingga keputusan terakhir, ayah harus pulang ke rumahnya. Rumah
tempat Dam di besarkan. Ayahnya mengerti. Ia harus pergi. Tetapi sebelum
pergi, ia berkata kepada Dam, “Ibumu sampai pada hari terakhirnya,ia bahagia Dam. Ibumu bahagia. Ayah tidak berbohong Dam.”
Setelah ayahnya pergi. Dam masuk ke
kamar. Didekatinya laptop yang masih terhubung dengan internet. Ia
mengetik nama ibunya di pencarian google. Satu detik berselang, dua
belas ribu hasil pencarian muncul. Berita-berita yang pernah memuat
tentang ibunya, artikel yang menulis tentangnya, kritikan, dan pujian
atas kariernya sebagai seorang artis. Dam, membaca artikel tentagn
penyakit yang di derita ibunya. Dokter bilang kalau umurnya, hanya akan
bertahan selama kurang lebih dua tahun. Namun, kenyataannya, ibunya
masih hidup sampai Dam beranjak dewasa. Apa yang menyebabkan ibunya bisa
bertahan begitu lama, dari prediksi dokter? Dam teringat kata-kata
ayahnya. “Ibumu sampai pada hari terkahirnya,ia bahagia Dam. Ibumu bahagia.” Kata-kata
ayahnya itu, menyadarkan Dam, bahwa kebahagiaan bisa membuat orang
bertahan lebih lama, dan membuat orang bisa kuat menghadapi masalah,
begitu juga dengan masalah penyakit. Pernikahan ibunya dengan ayahnya,
membuat ibunya mampu bertahan lebih lama, karena memang, ibunya bahagia.
Ibunya bahagia dengan keluarga yang dibangunnya. Ia segera keluar mau
mencari ayahnya, tiba-tiba hpnya berdering. Ada kabar bahwa Ayahnya
ditemukan pingsan di pemakaman kota. Ayahnya pingsan di samping kubur
ibunya.
***
Ayahnya telah siuman. Saat ini ayahnya
berada di rumah sakit. Namun, sang ayahnya merasa begitu lemas. Dalam
keadaan seperti itu, ayahnya memanggil Dam, dan kemudian mengatakan
sesuatu.
“Dam, hakikat sejati kebahagiaan
hidup itu berasal dari hati kau sendiri. Bagaimana kau membersihkan dan
melapangkan hati, bertahun-tahun berlatih, bertahun-tahun belajar
membuat hati lebih lapang, lebih dalam, dan lebih bersih. Kita tidak
akan pernah merasakan kebahagiaan sejati dari kebahagiaan yang datang
dari luar kita. Hadiah mendadak, kabar baik, keberuntungan, harta benda,
pangkat, jabatan, semua itu tidak hakiki. Itu datang dari luar. Saat
semua itu hilang, dengan cepat hilang pula kebahagiaan. Sebaliknya rasa
sedih, kehilangan, kabar buruk, nasib buruk, itu semua juga akan datang
dari luar. Saat semua itu datang dan hati kau dangkal, hati kau seketika
keruh berkepanjangan.” Ayah mulai tersengal
“Ayah, istirahatlah dulu, besok saja kita lanjutkan.” Kata Dam
“Tidak, Dam. Kau harus mendengar ini sampai selesai.” Ayah kembali melanjutkan. “Berbeda
halnya jika kau punya mata air sendiri di dalam hati. Mata air dalam
hati itu konkret, dam. Amat terlihat. Mata itu menjadi sumber
kebahagiaan tidak terkira. Bahkan ketika musuh kau mendapatkan
kesenangan, keberuntungan, kau bisa ikut senang atas kabar baiknya, ikut
bahagia, karena hati kau lapang dan dalam. Sementara orang-orang yang
hatinya dangkal, sempit, dia dengan segera iri hati dan gelisah. Padahal
apa susahnya ikut senang. Itulah hakikat sejati kebahagiaan hati, Dam.”
“Apakah ibu kau bahagia? Saat itu dia
terkenal, kaya, dan berpengaruh. Hingga kesedihan itu tiba. Dia jatuh
saat menghadiri pesta. Dokter bilang, usianya tidak akan lebih dari dua
tahun. Ibu kau kehilangan gairah hidup. Orang-orang di sekitarnya
bergegas pergi meninggalkannya. Ayah bertemu dengannya saat pesawat kami
mengalami keterlambatan dua belas jam. Wajahnya pucat, tangannya sering
gemetar. Kami berkenalan. Ayah menikah dengannya enam bulan kemudian.
Ayah membawanya ke si Raja Tidur setahun kemudian. Kami bicara malam
itu. Ibu kau bilang, dia setidaknya bisa bertahan setahun lagi. Dan kau
lahir, Dam. Energi kebahagiaan saat melihat kau menangis menyambut
kehidupan membuat ibu kau bertahan. Ibu kau bertahan bahkan lebih lama
dibandingkan perkiraan si raja Tidur. Ibu kau bahagia, Dam, meski harus
melupakan hari-hari hebatnya, meski harus hidup sederhana. Dia paham,
dan memilih jalan itu, karena Ayah jauh-jauh hari juga sudah memilih
jalan itu.” Ayah Dam mengeluarkan air mata saat bercerita.
“Apakah Ayah dan ibu kau bahagia?
Kalau kau punya hati yang lapang, hati yang dalam, mata air kebahagiaan
itu akan mengucur deras. Tidak ada kesedihan yang bisa merusaknya,
termasuk kesedihan karena cemburu, iri, atau dengki. Sebaliknya,
kebahagiaan atas gelar hebat, pangkat tinggi, harta benda, itu semua
tidak akan menambah sedikit pun beningnya kebahagiaan yang kau miliki.” Ayah mengakhiri ceritanya dengan senyum yang mengembang.
“Apakah ibu kau bahagia, Dam? Kau sekarang tahu jawabannya.”
Saat Ayah Dam menyelesaikan perkataannya,
Dam sudah memeluk ayahnya dengan sangat erat. Dam tidak menduga kalau
itu adalah pelukan terakhir Dam untuk ayahnya.
***
Bagitulah seorang ayah. Di balik
kesederhanaannya. Di balik sikapnya yang terkadang pendiam, ia memiliki
begitu banyak cerita indah yang selalu memberi kan kita inspirasi. Dan
anehnya inspirasi itu terkadang tidak kita sadari. Ia mengalir bagaikan
air. Membawa kita pada kesejukan dan menemukan titik kesuksesan sejati.
Ayah, engkau sungguh hebat. Tidak heran, Andrea Hirata, menyebut ayahnya
sebagai ayah juara satu seluruh dunia. Dan bagaimanapun juga, setiap
ayah adalah tetap seorang juara sejati kehidupan…
Sumber: novel tereliye : ayahku (bukan) Pembohong
No comments:
Post a Comment