Setiap pergantian tahun, khsususnya
tahun Masehi, selalu dihadapi dengan perayaan,, bahkan di Indonesia,
yang mayoritas muslimpun, perayaan tahun baru Masehi lebih besar
dibandingkan dengan Hijriyah. Tetapi saya ingin mencoba tahun baru dari
sisi yang berbeda. Bukan soal perayaan, tetapi tentang pelajaran dan
Inspirasi di penghujung tahun.
***
Tanggal 31 desember, sore hari saya
berkunjung ke Lawang Sewu, Semarang. Mungkin karena dalam suasana
liburan tahun baru, banyak pengunjung juga di hari itu. Saya sebenarnya
penasaran, wisata apa yang ditawarkan Lawang Sewu, bangunan tua
peninggalan Belanda itu. Setelah membayar karcis masuk 10 ribu rupiah,
saya masuk ke dalam. Ternyata di dalam hanya ruangan kosong yang tidak
ada isinya. Memang sebagian ada juga isinya, berupa gambar-gambar
tentang perkeretaapian pada zaman hindia Belanda. Ada gambar-gambar
tentang terminal kereta api yang pertama di bangun Belanda, di beberapa
daerah di pulau Jawa. Juga ada ruangan untuk nonton. Yah, nonton apalagi
kalau bukan video dokumentasi sejarah kereta api di Indonesia. Selain
itu, ada juga beberapa batu prasasti yang ditandatangani pemerintah
belanda pada saat itu, yang berkaitan dengan peresmian terminal kereta
api. juga ada foto-foto para gubernur jenderal Belanda yang pernah
memerintah Indonesia. Ada beberapa foto, tetapi yang paling saya kenal
adalah Van Den Bosch. Dialah gubernur yang membuat kebijakan tanam
paksa, untuk membayar hutang-hutang pemerintah hindia belanda.Di ruangan
depan gedung, adalah rungan yang menampilkan seragam para pejabat
kereta api dari zaman belanda sampai saat ini. keren juga koleksinya.
Sampai mereka bisa mengumpulkan semua seragam itu.
***
Bosan di dalam ruangan saya mencoba
keluar. Ternyata di luar banyak pengunjung yang sedang asik foto-foto
sama keluarga dan juga teman mereka. adalah menarik bagi saya
menyaksikan anak-anak kecil berlari ke sana ke mari di halaman gedung
peninggalan belanda ini. ada juga beberapa pengunjung dari Korea yang
sibuk mengambil gambar. Mungkin beginilah kehidupan di kota
besar,kesibukan kerja telah menyita banyak waktu bagi keluarga.
Lingkungan yang padat,juga membuat anak-anak tidak bisa leluasa
bergerak. Maka, di liburan seperti inilah, mereka yang selama ini sibuk
bekerja meluangkan waktu berlibur bersama keluarga, dan memberikan
kesempatan kepada anak-anak untuk bermain di alam terbuka secara bebas.
Tentu saja, hal itu berbeda dengan saya
terlahir dari desa. Di desa tidak perlu bayar untuk menikmati keindahan
alam di tempat terbuka. Sejak kecil tidak ada ketakutan untuk berlari di
alam terbuka secara bebas. Di titik ini, saya bersyukur terlahir di
desa yang jauh dari hiruk-pikuk keramaian seperti di kota besar. Di desa
kita memiliki kesempatan yang begitu besar untuk menjelajah cakrawala
alam yang begitu luas, dan mengambil setetes pelajaran.
No comments:
Post a Comment