Manusia
adalah salah satu ciptaan allah SWT yang paling sempurna,sehingga keberadaan
manusia ini menjadi kajian yang menarik dalam dunia ilmu pengetahuan. Mulai
dari mengkaji manusia dari segi budaya, sosiologi, hingga dari segi psikologis
manusia itu sendiri. Dari banyaknya kajian tentang manusia kemudian menyebabkan
adanya kesimpulan yang berbeda pula mengenai manusia itu sendiri. Misal dalam
kajian ilmu sosial disebutkan bahwa manusia itu tidak bisa hidup sendiri,
sehingga manusia membutuhkan orang lain untuk memenuhi kebutuhannya. Dalam
kajian budaya dikatakan bahwa pola perilaku manusia itu dipengaruhi oleh budaya
tempat tinggal. Dari sekian banyaknya perbedaan pandangan mengenai manusia, dalam
kajian ilmu psikologilah manusia di pandang dengan berbagai sudut pandang yang
berbeda yang kemudian menimbulkan kesimpulan yang berbeda. Misal psikologi
psikoanalisis, psikologi behavioristik, psikologi eksistensial, psikologi
humanistik dan sebagainya.
Ilmu
psikologi yang lahir dan berkembang di Barat menjelaskan tentang manusia atau
jiwa manusia dengan penjelasan yang berbeda-beda. Hal ini dikarenakan luasnya
cakupan tentang jiwa itu sendiri, sehingga memunculkan beberapa teori dengan
melihat dari bagian-bagian dari jiwa manusia, yang pada akhirnya dari teori
yang ada itu belum mampu untuk menjelaskan hakikat dari jiwa manusia itu
sendiri. Oleh karena itu, untuk dapat memahami lebih jauh tentang jiwa, perlu
juga kita merujuk pada kitab suci ( Al-Qur’an ) untuk mengetahui bagaimana Islam
memandang atau memberikan konsep tentang jiwa.
Tujuan
dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui konsep jiwa di dalam Islam
Makalah
ini diharapkan dapat memberikan sumbangsih pengetahuan tentang jiwa menurut
Islam, sehingga kita tidak hanya terpaku dengan teori-teori psikologi yang
membahas tentang jiwa yang berasal dari barat.
Jiwa
dalam bahasa Arab di kenal dengan istilah Nafs (النفس ) merupakan suatu kata yang memiliki arti banyak, sehingga
harus dipahami sesuai dengan penggunaannya. Kata Nafs (النفس ) dalam Alqur’an memiliki beberapa arti, yaitu sebagai berikut.[1]
1.
Jiwa atau
sesuatu yang memiliki eksistensi dan hakikat. Dalam pengertian ini, Nafs
terdiri atas tubuh dan ruh, sebagaimana tampak dalam ayat Alqur’an
“dan
Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa
(dibalas) dengan jiwa.....”.( al-Maidah : 45 )
2.
Nyawa yang
menyebabkan adanya kehidupan. Apabila nyawa ini hilang, maka kematian akan
dialami. Nafs dalam artian ini tampak dalam Al-qur’an
“......Para
Malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): "Keluarkanlah
nyawamu" di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat
menghinakan,....” ( Al-an’am : 93 )
3.
Suatu sifat pada
manusia yang memiliki kecenderungan kepada kebaikan dan juga kejahatan. Hal ini
tampak dalam ayat Alqur’an
“Maka
hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah,
Maka jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi.” ( Al-maidah : 30 )
4.
Sifat pada diri
manusia yang berupa perasaan dan indra yang ditinggalkannya ketika ia tertidur,
tampak dalam Alqur’an
“Allah
memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum
mati di waktu tidurnya; Maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan
kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan....”
( Az-zumar : 42 )
Dari
beberapa definisi di atas dapat di
simpulkan bahwa Nafs ( jiwa ) dalam pandangan Islam adalah diri manusia
itu sendiri, nyawa ( roh ) yang menyebabkan adanya kehidupan, sifat yang
mendorong manusia untuk melakukan suatu perbuatan, dan perasaan pada diri
manusia.
Sedangkan
dalam pandangan psikoanalisis jiwa diartikan sebagai suatu keadaan dalam diri
manusia yang terdiri dari keadaan sadar ( alam sadar ) dan keadaan tidak sadar (
alam tidak sadar ), dari dua keadaan ( alam tersebut yang mendorong untuk melakukan suatu perbuatan
adalah alam tidak sadar.[2]
Oleh karena itu, dalam pandangan Psikoanalisis suatu perbuatan yang dilakukan
oleh manusia berasal dari alam tidak sadar, baik itu perilaku yang baik maupun
perilaku yang tidak baik, semua berasal dari alam tidak sadar.
Jika
di lihat dari definisi nafs dalam Alqur’an di mana nafs adalah sifat yang mendorong
manusia untuk melakukan suatu perbuatan, maka ada sedikit kemiripan dengan
definisi jiwa dalam pendekatan psikoanalisis dalam kajian ilmu psikologi barat.
Namun dalam faktor yang menyebabkan timbulnya suatu perilaku itu ada perbedaan,
antara konsep Islam dengan konsep psikoanalisis. Untuk mengetahui perbedaannya
akan di jelaskan bagaimana pembagian jiwa dalam konsep Islam dan konsep
psikoanalisis.
Dalam
konsep Islam, Nafs ( jiwa ) di bagi
menjadi lima bagian, yaitu[3]
1. Nafs Sawiyyah Mullahamah
( diri manusia yang lurus dan selalu mendapat ilham Tuhannya )
2. Nafs Ammarah Bissu’i
( diri manusia yang selalu cenderung untuk melakukan perbuatan buruk )
3. Nafs Lawwamah ( diri manusia yang
selalu menyesali dan ragu ).
4. Nafs Zakiyyah ( diri manusia yang
suci dan tidak terkontaminasi dengan sesuatu ).
5. Nafs Muthmainnah Radhiyah
( diri manusia yang dipenuhi dengan ketenangan hidup).
Dalam konsep psikoanalisis, pembagian
struktur jiwa manusia menjadi tiga bagian[4],
yaitu :
1. Lapisan
kesadaran yang berisi hasil pengamatan kita terhadap dunia sekitar.
2. Lapisan
bawah sadar, berisi hal-hal yang dilupakan, tetapi jika ada perangsang atau
stimulus akan muncul dalam lapisan kesadaran.
3. Lapisan
yang tidak disadari, yang berisi kompleks-kompleks yang terdesak, seperti Das
Es ( id ), Das ich ( ego ) dan Das uber ich ( super Ego ).
Seperti
yang telah disebutkan sebelumnya bahwa dalam pandangan psikoanalisis semua
perilaku manusia di doroang oleh lapisan yang tidak di sadari yang terdiri dari
Das Es ( id ), Das Ich ( ego ), dan Das Uber Ich ( super ego ). Id merupakan
suatu energi yang ada dalam diri manusia yang tujuannya untuk menghindari
ketegangan dan mencari kesenangan. Id ini di dorong oleh suatu energi psikis
yang oleh Freud di sebut sebagai libido[5],sebagai
contoh ketikan seseorang merasa lapar, maka akan terjadi ketegangan, sehingga
orang tersebut akan berusaha untuk menghilangkan rasa tegang tersebut. Ego
merupakan penghubungan antara Id dengan dunia nyata untuk memenuhi tuntutan
dari Id. Jika Id berdasarkan prinsip kenikmatan, maka ego berdasarkan prinsip
realita atau kenyataan[6],
sehingga dalam usaha untuk memenuhi tuntutan dari Id, ego menyesuaikannya
dengan kenyataan. Sedangkan super ego adalah aspek-aspek moral yang di dapat
dalam lingkungan masyarakat atau nilai-nilai yang diajarkan oleh orang tua[7].
Adanya super ego inilah yang menyebabkan individu merasa bersalah apabila
melakukan suatu perbuatan yang melanggar norma-norma dalam lingkungan sosial. Adanya
super ego ini juga menyebabkan individu berperilaku tidak sesuai dengan
dorongan Id, sehingga dorongan itu di tekan dan kemudian diwujudkan dalam
perilaku yang berbentuk lain yang bisa di terima oleh lingkungan sosial, yang
disebut dengan mekanisme pertahanan diri ( defense mechanisms )[8]. Berdasarkan
penjelasan di atas, maka segala perilaku manusia itu di dorong oleh Id, yang
didasari oleh suatu energi psikis yang oleh Freud disebut dengan libido
seksual. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa segala perilaku manusia baik itu
yang baik maupun yang buruk itu semua berasal dari dorongan libido seksual.
Islam
memiliki pandangan sendiri mengani perilaku manusia yang berbeda dengan konsep
psikoanalis. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan struktur kejiwaan yang ada
dalam diri manusia menurut Islam dan Psikoanalisis. Dalam Islam struktur jiwa (
Nafs ) ada lima yaitu, Nafs Sawiyyah Mullahamah, Nafs Ammarah Bissu’i, Nafs
Lawwamah, Nafs Zakiyyah, dan Nafs Muthmainnah Radhiyah.
a.
Nafs
Sawiyyah Mullahamah
Penjelasan
mengenai Nafs Sawiyyah Mullahamah ini didasari dari ayat alqur’an pada surah
Asy-Syams ayat 7-8 :
“dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), Maka Allah
mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.”
Berdasarkan
pendapat dari beberapa pakar tafsir diketahui bahwa ilham yang dimaksud pada
ayat di atas adalah fitrah yang di terima manusia melalui Allah SWT. oleh
karena itu, manusia memang diciptakan dengan fitrah dan dari fitrah itu
kemudian manusia bisa memilih untuk menyalurkan fitrah itu pada jalan ketakwaan
atau jalan kefasikan.[9]
Pilihan inilah yang kemudian akan di hisab Allah di hari perhitungan nanti,
jika memilih jalan taqwa Allah telah menyediakan surga sebagai balasan,dan jika
memilih jalan kefasikan Allah juga telah
menyediakan neraka sebagai balasan.[10]
b.
Nafs Ammarah Bissu’i
Nafs
Ammarah Bissu’i memiliki pengertian diri manusia yang
selalu cenderung melakukan perbuatan buruk. Kondisi seperti ini terjadi pada
manusia bukan karena sifat manusia pada dasarnya adalah buruk, tetapi karena
manusia tidak mampu menghadapi godaan setan, sehingga manusia tersebut
cenderung untuk melakukan perbuatan yang buruk. Dalam hal ini, ketika Nafs
Ammarah Bissu’i ada dalam diri manusia, maka manusia tersebut telah memilih
jalan kefasikan. Ia telah menyalahgunakan fitrah yang diberikan Allah
kepadanya,di mana secara fitrah manusia itu akan selalu melakukan kebaikan atau
perbuatan-perbuatan yang baik.[11]
c.
Nafs
Lawwamah
Nafs
Lawwamah berarti diri manusia yang selalu menyesali dan
ragu. Dalam hal ini manusia memiliki kemampuan untuk bisa merenungkan kejadian
yang telah dialaminya pada masa lampau. Jika penyesalan ini ada pada orang
beriman, maka hal ini akan dijadikan sebagai intropeksi diri untuk menjadi
manusia yang lebih baik lagi dalam beribadah kepada Allah SWT. penyesalan yang
dialaminya membangkitkan fitrah untuk bisa menempatkan diri dan
mengaktualisasikan diri sesuai dengan yang digariskan oleh Allah SWT.[12]
d.
Nafs
Zakiyyah
Nafs
Zakiyah (diri manusia yang suci dan tidak terkontaminasi
dengan sesuatu) ini akan dialami
individu bila ia mampu mengendalikan segala keburukan dari dorongan psikis yang
telah ada dalam diri manusia. Dorongan psikis ini adalah fitrah yang diberikan
oleh Allah kepada manusia, seperti dorongan untuk mempertahankan diri, dorongan
seksual dan dorongan untuk beragama. Apabila manusia telah mampu mengendalikan
dorongan-dorongan tersebut dengan baik, dan hanya menyalurkan dorongan tersebut
sesuai dengan tujuan penciptaan manusia, maka manusia telah berada dalam
tingkatan Nafs Zakiyah.[13]
e.
Nafs
Muthmainnah Radhiyah
Ketika
manusia telah ridha dengan keadaan dirinya, ridha dengan keadaan yang
mengantarkan ia merasa bahagia dan tenang, maka pada saat itu ia telah berada
dalam Nafs Muthmainnah Radhiyah ( diri manusia yang dipenuhi dengan
ketenangan hidup). Keridhaan adalah suatu kebahagiaan yang menyelimuti manusia,
sehingga ketika manusia itu telah ridha maka ia tidak akan mengalami
kegelisahan. Hal itulah yang menyebabkan Allah menjadikan keridaan ini sebagai
tujuan akhir dari suatu usaha yang dilakukan manusia, dan balasan bagi mereka yang ridha adalah kembali kepada Allah
SWT dalam keadaan bahagia dan akan digolongkan ke dalam golongan orang yang
beriman.[14]
Berdasarkan
penjelasan di pembahasan, maka dapat
diketahui perbedaan antara konsep psikoanalisis dan konsep Islam mengani jiwa
manusia. Menurut konsep analisis segala perilaku manusia, baik itu perilaku
yang baik maupun yang buruk di dorong oleh libido seksual yang bertujuan untuk
mendapatkan kesenangan atau kenikmatan. Sedangkan dalam konsep Islam di dorong
oleh adanya fitrah yang diberikan oleh Allah kepada manusia, yang tujuannya
untuk beribadah kepada Allah SWT, meskipun dalam konsep Islam segala perilaku
juga bertujuan untuk mendapatkan kebahagiaan, namun hal itu berbeda dengan
konsep untuk mendapatkan kesenangan dalam psikoanalisis. Konsep mencari
kebahagiaan dalam Islam adalah untuk mendapatkan ridha Allah SWT, sehingga
dalam Islam tidak di kenal istilah mekanisme pertahanan diri ( defense
mechanisms ).
Melalui
makalah ini penulis ingin menyampaikan kepada pembaca supaya dalam mengkaji
ilmu pengetahuan tidak hanya berdasarkan sudut pandang teori yang berasal dari
barat, tetapi juga harus mengkaji ilmu pengetahuan, khususnya ilmu-ilmu sosial
dengan sudut pandang Islam.
[1] Muhammad
Izzuddin Taufiq, Panduan Lengkap dan Praktis Psikologi Islami, ( Jakarta
: Gema Insani, 2006 ), h. 70-72
[2] Jess
Feist, teori kepribadian, ( Jakarta : Salemba Humanika, 2011 ), h. 27
[3] Muhammad
Izzuddin Taufiq, Ibid, 97
[4] Agus
sujanto, Psikologi Umum, ( Jakarta : Bumi Aksara, cet.12, 2004 ), h. 134
[5]
CaroleWade, psikologi Jilid 2, ( Jakarta : Erlangga, 2007 ). H. 195.
[6] Jess
Feist, Ibid, 32
[7] Carole
Wade, Ibid
[8] Ibid,
196
[9] Muhammad
Izzuddin Taufiq, Ibid,103.
[10]
Taqiyuddin an-Nabhani, Peraturan Hidup dalam Islam, ( Jakarta : HTI Press,
cet.9, 2012 ), h. 40
[11]
Muhammad Izzuddin Taufiq, ibid.
[12] Ibid,
106
[13] Ibid,
107
[14] Ibid, 108
-109