Ini abad ke 6, muhammad saw menyampaikan sesuatu yang tidak bisa di
terima oleh umat manusia. betapa tidak beliau membicarakan tentang
sesuatu yang sangat besar. membicarakan tentang sesuatu yang di luar
jangkauan akal. membicarakan sesuatu yang hanya bisa diterima dan
dimengerti oleh mereka yang beriman. Jumlah mereka yang beriman sangat
sedikit, sehingga tidak jarang mereka di anggap sebagai orang gila.
Ketika umat Islam mendengar akan di serang oleh tentara kafir Quraisy
dari Mekkah, mereka berdiskusi untuk mencari solusi terbaik
mempertahankan Madinah. Membuat parit adalah starategi yang mereka
pilih. Ide ini disampaikan oleh Salman al-Farisi. Orang arab sebelumnya
pernah mengetahui metode ini, sehingga membuat kaget para tentara
quraisy ketika melihat parit yang mengelilingi kota Madinah.
Matahari bersinar terik membakar batu dan pasir yang sudah
kekeringan,menambah kerontang padang pasir yang menguapkan hawa panas
menyengat. Kondisi alam di jazirah arab adalah sebuah tantang
tersendiri, khususnya bagi siapa mencoba menggali parit dengan ukuran
kilometer yang cukup menenggelamkan kuda hingga tak dapat lagi melompat
melewatinya. Begitulah keadaan umat Islam. Selain itu, mereka kekurangan
makanan. Konon, dikabarkan satu buah kurma di gunakan untuk konsumsi 10
orang.
Di saat panas matahari itu, di saat para sahabat kelelahan karena
teriknya matahari disertai rasa lapar dan haus, salah seorang sahabat
bertanya kepada Muhammad SAW. Sebuah pertanyaan yang di anggap tidak
masuk akal pada saat itu.
Berkata Abdullah bin Amru bin ash: “Bahwa ketika kami duduk di
sekeliling Rasulullah SAW untuk menulis, lalu Rasulullah SAW di tanya
tentang kota manakah yang akan di tawan terlebih dahulu, Konstatinopel
atau Roma.” ( HR Ahmad )
Ketika pertanyaan tentang kota manakah yang terlebih dahulu akan
ditaklukkan, kaum yahudi dan munafik tercengang dan berpikir untuk
mencari cara agar mengolok-olok kaum umat Islam. Bagi mereka umat Islam
telah kehilangan akal. Pertanyaan mereka sudah menjelaskan semuanya.
Bahwa mereka telah gila. Bagaimana mungkin mereka membicarakan tentang
Konstatinopel dan Romawi, sedangkan mereka saja belum pernah melihat ke
dua kota itu. Bagaimana mungkin mereka membicarakan Konstatinopel dan
Romawi, sedangkan esok hari mereka akan di serang kaum kafir Quraisy
Mekah, mereka tidak tahu apakah mereka akan hidup atau mati. Panasnya
terik matahari dan rasa lapar serta haus telah menghilangkan akal sehat
umat Islam, pikir Yahudi.
Yahudi lebih tercengang lagi ketika mendengar Jawaban dari Muhammad SAW. “kotanya Heraklius terlebih dahulu (yakni konstatinopel)” (HR Ahmad). Dari jawaban itulah, Yahudi menyimpulkan pantas saja Umat Islam gila, ternyata pemimpinnya juga gila.
***
Sejarah kemudian mencatat, pada tahun 1453, Konstatinopel benar-benar
ditaklukkan oleh umat Islam.di tangan Muhammad Al-Fatih, pertanyaan
umat Islam Kepada Muhammad SAW, jawaban Muhammad SAW, yang dulu di
anggap gila, yang dulu di olok-olok, menjadi kenyataan. Seandainya kaum
yahudi dan munafik yang mengolok-olok umat Islam gila, masih hidup pada
tahun 1453, mereka akan lebih tercengang lagi melihat kenyataan.
Kenyataan bahwa mereka hanyalah pecundang yang dikalahkan kenyataan.
Karena yang mereka anggap gila kini telah menjadi pahlawan.
***
Ini abad 21,, tahun 2015, kondisi dunia dikuasai peradaban
demokrasi-kapitalisme, yang diusung negara-negara kafir barat. Umat
islam yang dulu kuat,terpecah-pecah dalam nasionalisme kebangsaan. Umat
Islam terpecah-pecah menjadi beberapa negara. Umat Islam menjadi
negara-negara kecil yang diperebutkan negara-negara kafir barat untuk
dieksploitasi. Para pemimpin negara Islam tersebut lebih mendengar
suara-suara penguasa negara barat, daripada rakyatnya sendiri.
Penderitaan di mana-mana. Muslim di Rohingya di siksa, Muslim di
Palestina di jajah, muslim di suriah di kejar-kejar dan di bunuh oleh
pemimpin mereka sendiri dengan bantuan negara barat. Tidak ada
kesejahteraan buat anak-anak Muslim di sana. Tidak ada senyum bahagia
dan dan senyuman polos khas anak-anak di sana, mereka di cekam ketakutan
yang luar biasa. Bayangan kematian menghantui mereka setiap saat. Harga
nyawa umat Islam begitu murah. Sementara, negara kafir barat, hidup
bermewah-mewah atas hasil eksploitasi sumber daya negeri-negeri muslim.
Di tengah kondisi umat Islam seperti, kemudian muncul orang-orang
yang memiliki impian besar. Impian yang melampaui kenyataan. Mereka
memimpikan bahwa umat Islam yang kini terpecah-pecah menjadi kurang
lebih 50 negara, harus bersatu dalam satu negara. Jika persatuan ini
dapat di bentuk, maka semua kejahatan demokrasi-kapitalisme di muka bumi
akan di lawan, dan digantikan dengan kepemimpinan Islam yang akan
membawa rahmat bagi seluruh alam.
Namun, mereka yang bermimpi besar itu, selalu di anggap sebagai
kelompok pemimpi. Kelompok yang tidak melihat realita. Bagaimana bisa
mempersatukan ke 50 negara dalam satu negara, antara Indonesia dan
malaysia saja, ketika permainan sepak bola, selalu terjadi ejek-ejekan
antar warga negara. Tentu saja orang Indonesia mendukung negaranya
begitu juga dengan Malaysia, yang terkadang berakhir dengan kekerasan.,
Bahkan tidak jarang para penggagas persatuan negara-negara Islam
dalam satu negara tersebut, di anggap sebagai orang gila yang dibutakan
oleh romantisme sejarah. Karena mereka telah dibutakan oleh
sejarah,sehingga tidak lagi berpikir berdasarkan fakta yang ada.
***
Memang, begitulah nasib orang-orang yang memiliki impian besar.
Pikiran mereka tidak bisa dipahami dengan mudah oleh sebagian besar
orang yang berpikir berdasarkan fakta. Mereka selalu di anggap gila dan
pemimpi yang tidak lagi melihat kenyataan. Bahkan terkadang mereka di
ejek dan di olok-olok hanya karena mimpi-mimpi mereka. tetapi sejarah
telah mencatat, Muhammad SAW yang di anggap gila pada masanya, kemudian
menjadi pemenang. Ia mengalahkan mereka yang menghina mimpi-mimpinya. Ia
mengalahkan mereka yang pernah menyebutnya gila.
Dan kepada umat Islam hari ini,yang
memimpikan kembalinya negara Khilafah untuk mempersatukan seluruh umat
islam di sluruh dunia dalam satu negara, saya yakin suatu saat mereka
akan memenangkan impiannya. Mereka akan mengalahkan orang-orang yang
menghina dan mengolok-olok mereka.
Karena memang, sebuah impian besar,selalu di tolak ketika pertama kali impian itu disampaikan. Namun, sejarah selalu mencatat kemenangan bagi mereka yang berani bermimpi besar.